Kreativitas guru menggunakan media untuk meningkatkan kualitas pembelajaran


BAB I
PENDAHULUAN
A.          Latar Belakang
              Pendidikan merupakan wahana yang penting dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas diperlukan sistem pendidikan yang berkualitas. Sebagai upaya untuk memenuhi tuntutan sistem pendidikan yang mampu menghasilkan sumber daya manusia yang handal, pemerintah telah melakukan berbagai upaya dan salah satunya adalah meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar para siswa di setiap jenjang dan tingkat satuan pendidikan perlu diwujudkan agar diperoleh kualitas sumber daya manusia yang dapat menunjang pembangunan nasional. Upaya tersebut menjadi tugas dan tanggung jawab semua tenaga pendidikan. Demikian halnya dalam pembelajaran di sekolah, untuk memperoleh hasil yang optimal dituntut tidak hanya mengandalkan terhadap apa yang ada didalam kelas, tetapi harus mampu dan mau menelusuri aneka ragam sumber belajar yang diperlukan. Sungguhpun demikian dalam menelusuri dan mendayagunakan aneka ragam sumber tersebut, maka peran guru sangat menentukan, sebab gurulah yang langsung dalam membina para siswa di sekolah melalui proses belajar mengajar.
Oleh sebab itu upaya meningkatkan kualitas pendidikan harus lebih banyak dilakukan para guru dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pendidik dan pengajar.

              Salah satu upaya yang dimaksud adalah penggunaan media pengajaran dalam proses pembelajaran. Media merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan pembelajaran. Melalui media proses pembelajaran bisa lebih menarik dan menyenangkan. misalnya siswa yang memiliki ketertarikan terhadap warna maka dapat diberikan media dengan warna yang menarik. Begitu juga halnya dengan siswa yang senang berkreasi selalu ingin menciptakan bentuk atau objek yang diinginkannya, siswa tersebut dapat diberikan media yang sesuai, seperti plastisin, media balok bangun ruang, atau diberikan media gambar lengkap dengan catnya. Dengan menggunakan media berteknologi seperti halnya komputer, amat membantu siswa dalam belajar, seperti belajar berhitung, membaca dan memperkaya pengetahuan.
              Penggunaan media pengajaran dapat mempertinggi kualitas proses belajar mengajar yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas hasil belajar para siswa. Aspek penting lainnya penggunaan media adalah membantu memperjelas pesan pembelajaran. Informasi yang disampaikan secara lisan terkadang tidak dipahami sepenuhnya oleh siswa, terlebih apabila guru kurang cakap dalam menjelaskan materi. Disinilah peran media, sebagai alat bantu memperjelas pesan pembelajaran. Oleh karena itu, dalam memenuhi harapan tersebut diperlukan kreativitas dan keterampilan guru dalam membuat, memilih, menggunakan media yang dapat mempengaruhi proses dan kualitas pembelajaran. Selain itu, salah satu faktor penting keberhasilan penggunaan media, tidak terlepas dari bagaimana media itu direncanakan dengan baik.
              Media merupakan alat atau perantara untuk memudahkan seseorang memberikan pesan kepada orang lain. Jika kata media, dikaitkan dengan pendidikan maka media tersebut bermakna alat atau perantara yang digunakan untuk memudahkan pendidikan baik dalam hal proses belajar, mengajar, dan belajar mengajar. Media pendidikan berkembang dari dulu hingga sekarang mengikuti keadaan zaman. Banyak media pendidikan yang dapat dijadikan alat untuk memudahkan pendidikan, dimulai dari yang sederhana sampai dengan yang bersifat modern.
              Beragamnya media pendidikan berarti menunjukkan berkembangnya penggunaan media. Seiring dengan perkembangannya, maka penggunaannya pun sangat beragam. Dimulai dari yang klasik seperti media berbasis manusia yang menjadikan manusia langsung sebagai media, maupun media yang modern seperti media yang berbasis komputer yang menjadikan komputer sebagai alat untuk menyampaikan pendidikan. Dibawah ini adalah pembahasan mengenai macam-macam media pendidikan dan cara menggunakannya.
              Melalui makalah ini mencoba menjelaskan media pembelajaran baik yang berkenaan dengan penggunaannya dalam proses pembelajaran maupun pembuatannya sepanjang dimungkinkan oleh guru.
              Mengingat luasnya cakupan masalah seperti yang dijelaskan pada latar belakang di atas, maka penulis membatasi fokus pembahasan makalah ini hanya pada: “Kreativitas guru menggunakan media untuk meningkatkan kualitas pembelajaran”

B.           Latar Balakang
              Dalam rangka meningkatkan kualitas proses pembelajaran terhadap siswa, di pandang perlu untuk memahami perlunya menerapkan konsep dasar kreativitas guru dalam menggunakan media. Adapun alternatif yang bisa digunakan sebagaimana kondisi dan permasalahan hasil belajar dapat dirumuskan sebagai berikut: “Bagaimana kreativitas guru menggunakan media untuk meningkatkan kualitas pembelajaran”.

C.          Tujuan Penulisan  Makalah
              Berdasarkan uraian latar belakang di atas, secara umum tujuan penulisan makalah ini untuk memberikan gambaran kreativitas guru menggunakan media untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Sedangkan tujuan khusus dari penulisan makalah ini untuk memberikan gambaran bagaimana kreativitas guru dalam merencanakan, membuat, memilih dan menggunakan media sehingga mempengaruhi proses pembelajaran serta dapat mempertinggi kualitas pembelajaran yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas hasil belajar para siswa.


BAB II
PEMBAHASAN
A.          Konsep Kreativitas Guru
              Dari berbagai faktor yang berpengaruh terhadap efektivitas pembelajaran, nampaknya faktor guru perlu mendapat perhatian yang pertama dan utama, disamping kurikulumnya, karena baik buruknya suatu kurikulum (pembelajaran) pada akhirnya bergantung pada aktivitas dan kreativitas guru dalam menjabarkan dan merealisasikan kurikulum tersebut. Pembelajaran yang efektif ditandai oleh sifatnya yang menekankan pada pemberdayaan sumber belajar dan peserta didik secara aktif. Pembelajaran bukan sekedar memorasi dan recall, bukan sekedar penekanan pada penguasaan pengetahuan tentang apa yang diajarkan (logos), tetapi lebih menekankan pada internalisasi tentang apa yang diajarkan sehingga tertanam dan fungsi sebagai muatan nurani dan dihayati serta dipraktekkan dalam kehidupan oleh peserta didik ( Mulyasa, 2006:149).
              Pembelajaran efektif juga akan melatih dan menanamkan sikap demokratis bagi peserta didik. Lebih dari itu, pembelajaran yang efektif menekankan pada bagaimana agar peserta didik mampu belajar cara belajar (learning how to learn). Melalui kreativitas guru, pembelajaran di kelas menjadi sebuah aktivitas yang menyenangkan. Proses aktivitas belajar mengajar yang menyenangkan tentunya tidak tercipta begitu saja, akan tetapi pengelolaannya dirancang oleh guru dengan merancang fasilitas belajar (media), sehingga aktivitas belajar siswa menjadi dipermudah dan mendorong proses belajar siswa.
              Kreativitas bisa dikembangkan dengan penciptaan proses pembelajaran yang memungkinkan peserta didik dapat mengembangkan kreativitasnya. Selanjutnya Mulyasa (2008:51) menyatakan bahwa “kreativitas merupakan hal yang penting dalam pembelajaran, dan guru dituntut untuk mendemonstrasikan dan menunjukkan proses kreativitas tersebut.” Sedangkan Muhadjir (2003:157) menyatakan “kemampuan kreatif merupakan kemampuan guru untuk menampilkan tata hubungan unik atau hubungan baru non konvensional yang bermakna antara sejumlah sesuatu.” Salah satu bentuk yang perlu ditunjukkan kreativitas guru dalam proses pembelajaran yaitu memanfatkan berbagai sumber belajar dan media pembelajaran agar mempertinggi hasil belajar yang dicapai. Kreativitas merupakan sesuatu yang bersifat universal dan merupakan ciri aspek dunia kehidupan sekitar kita. Kreativitas ditandai oleh adanya kegiatan menciptakan sesuatu yang sebelumnya tidak ada dan tidak dilakukan oleh seseorang atau adanya kecenderungan untuk menciptakan sesuatu.
              Menurut Mulyasa (2006:128), secara umum guru diharapkan menciptakan kondisi yang baik, yang memungkinkan setiap peserta didik dapat mengembangkan kreativitasnya, antara lain dengan teknik kerja kelompok kecil, penugasan dan mensponsori pelaksanaan proyek. Selain itu menilai, menghargai peserta didik berpikir kreatif, memberanikan peserta didik untuk memanipulasi benda-benda (obyek) dan ide-ide, menciptakan kondisi yang diperlukan untuk berpikir kreatif, menyediakan sumber untuk menyusun gagasan dan ide-ide, mengembangkan keterampilan untuk memberikan kritik yang membangun dan lain sebagainya. Sejalan dengan itu, Nana Syaodih S. (2004:181), menyatakan berpikir kreatif adalah “kebiasaan berpikir yang bersifat menggali, menghidupkan imaginasi, intuisi, menumbuhkan potensi-potensi baru, membuka pandangan yang menimbulkan kekaguman, merangsang pikiran-pikiran yang tidak terduga.”
              Sebagai orang yang kreatif, guru menyadari bahwa kreativitas merupakan yang universal dan oleh karenanya semua kegiatannya ditopang, dibimbing dan dibangkitkan oleh kesadaran itu. Guru sendiri adalah seorang kreator dan motivator, yang berada di pusat proses pendidikan khususnya dalam pembelajaran. Akibat dari fungsi ini, guru senantiasa berusaha untuk menemukan cara yang lebih baik dalam melayani peserta didik, sehingga peserta didik akan nilainya bahwa memang kreatif dan tidak melakukan sesuatu yang rutin saja. Kreativitas menunjukkan bahwa apa yang akan dikerjakan oleh guru sekarang lebih baik dari yang telah dikerjakan sebelumnya dan apa yang dikerjakan dimasa mendatang lebih baik dari sekarang.

B.           Manfaat Media Pembelajaran
              Media pengajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam pengajaran yang pada gilirannya diharapkan dapat mempertinggi hasil belajar yang dicapainya. Menurut Nana Sudjana (2007:2-3), ada beberapa alasan, mengapa media pengajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa. Alasan pertama berkenaan dengan manfaat media pengajaran dalam proses belajar siswa antara lain:
a.       Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar.
b.       Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh para siswa, dan memungkinkan siswa menguasai tujuan pengajaran lebih baik.
c.       Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi bila guru mengajar untuk setiap jam pelajaran.
d.      Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengarkan uraian dari guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan dan lain-lain.
Contoh sederhana, guru akan mengajarkan masalah kepadatan penduduk sebuah kota. Ia menggunakan berbagai media pengajaran antara lain gambar atau foto suatu kota yang padat penduduknya dengan segala permasalahannya. Gambar dan foto tersebut akan lebih menarik bagi siswa dibandingkan dengan cerita guru tentang padatnya penduduk kota tersebut. Alasan kedua, mengapa penggunaan media dapat mempertinggi proses dan hasil pengajaran adalah berkenaan dengan taraf berpikir siswa. Taraf berpikir manusia mengikuti taraf perkembangan dimulai dari berpikir kongkret menuju ke berpikir abstrak, dimulai dari berpikir sederhana menuju ke berpikir kompleks. Penggunaan media pengajaran erat kaitannya dengan tahapan berpikir tersebut sebab melalui media pengajaran hal-hal yang abstrak dapat dikongkretkan, dan hal-hal yang kompleks dapat disederhanakan (Nana Sudjana, 2007:3).
              Sedangkan Kemp dan Dayton (1985) dalam Wina Sanjaya (2008:210-211), menyatakan media memiliki kontribusi yang sangat penting terhadap proses pembelajaran, diantaranya, yaitu:
a.       Penyampaian pesan pembelajaran dapat lebih terstandar.
b.       Pembelajaran dapat lebih menarik
c.       Pembelajaran dapat lebih interaktif
d.      Waktu pelaksanaan pembelajaran dapat diperpendek.
e.       Kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan
f.       Proses pembelajaran dapat berlangsung kapan pun dan di mana pun diperlukan
g.       Sikap positif siswa terhadap materi pembelajaran serta proses pembelajaran dapat ditingkatkan
h.       Peran guru berubah kearah yang positif, artinya guru tidak menempatkan diri sebagai satu-satunya sumber belajar.
              Dalam kaitannya dengan fungsi media pembelajaran, dapat ditekankan beberapa hal berikut ini:
a.       Penggunaan media pembelajaran bukan merupakan fungsi tambahan, tetapi memiliki fungsi tersendiri sebagai sarana bantu untuk mewujudkan situasi pembelajaran yang lebih efektif.
b.       Media pembelajaran merupakan bagian integral dari keseluruhan proses pembelajaran. Hal ini mengandung pengertian bahwa media pembelajaran sebagai salah satu komponen yang tidak berdiri sendiri tetapi saling berhubungan dengan komponen lainnya dalam rangka menciptakan situasi belajar yang diharapkan.
c.       Media pembelajaran dalam penggunaannya harus relevan dengan kompetensi yang ingin dicapai dan isi pembelajaran itu sendiri. Fungsi ini mengandung makna bahwa penggunaan media dalam pembelajaran harus selalu melihat kepada kompetensi dan bahan ajar.
d.      Media pembelajaran bukan berfungsi sebagai alat hiburan, dengan demikian tidak diperkenankan menggunakannya hanya sekedar untuk permainan atau memancing perhatian siswa semata.
e.       Media pembelajaran bisa berfungsi untuk mempercepat proses belajar. Fungsi ini mengandung arti bahwa dengan media pembelajaran siswa dapat menangkap tujuan dan bahan ajar lebih mudah dan lebih cepat.
f.       Media pembelajaran berfungsi untuk meningkatkan kualitas proses belajar-mengajar. Pada umumnya hasil belajar siswa dengan menggunakan media pembelajaran akan tahan lama mengendap sehingga kualitas pembelajaran memiliki nilai yang tinggi.
g.       Media pembelajaran meletakkan dasar-dasar yang konkret untuk berfikir, oleh karena itu dapat mengurangi terjadinya penyakit verbalisme.
              Selain fungsi sebagaimana disebutkan di atas, media pembelajaran ini juga memiliki nilai dan manfaat sebagai berikut:
1.       Membuat konkrit konsep-konsep yang abstrak. Konsep-konsep yang dirasakan masih bersifat abstrak dan sulit dijelaskan secara langsung kepada siswa bisa dikonkretkanatau disederhanakan melalui pemanfaatan media pembelajaran. Misalnya untuk menjelaskan tentang sistem peredaraan darah manusia, arus listrik, berhembusnya angin, dan sebagainya bias menggunakan media gambar atau bingkai sederhana.
2.       Menghadirkan objek-objek yang terlalu berbahaya atau sukar didapat ke dalam lingkungan belajar. Misalnya guru menjelaskan dengan menggunakan gambar atau program televisi tentang binatang-binatang buas seperti harimau dan beruang, atau hewan- hewan lainnya seperti gajah, jerapah, dinosaurus, dan sebagainya.
3.       Menampilkan objek yang terlalu besar atau kecil. Misalnya guru akan menyampaikan gambaran mengenai sebuah kapal laut, pesawat udara, pasar, candi, dsb. Atau menampilkan objek-objek yang terlalu kecil seperti bakteri, virus, semut, nyamuk, atau hewan/benda kecil lainnya.
4        Memperlihatkan gerakan yang terlalu cepat atau lambat. Dengan menggunakan teknik gerakan lambat (slow motion) dalam media film bisa memperlihatkan tentang lintasan peluru, melesetnya anak panah, atau memperlihatkan suatu ledakan. Demikian juga gerakan- gerakan yang terlalu lambat seperti pertumbuhan kecambah, mekarnya bunga wijaya kusumah dan lain-lain.

C.          Penggunaan Media Pembelajaran
              Siswa memiliki berbagai keunikan dan keragaman dalam menangkap informasi atau materi pelajaran yang diberikan oleh guru di dalam kegiatan pembelajaran. Menurut Rusman (2008:83) ada tiga tipe interest siswa kaitanya dengan penerimaan informasi atau materi yang diberikan oleh guru. Pertama, Auditif, yaitu siswa yang senang mendengarkan penjelasan dari guru. Untuk tipe ini tanpa mengggunakan media pembelajaran pun siswa tersebut dapat menangkap informasi atau materi pelajaran yang disampaikan guru. Kedua, Visual, tipe ini siswa lebih senang melihat ketimbang mendengarkan. Untuk tipe siswa ini akan berakibat kurang optimal penyerapan informasi atau materi pelajaran bila guru hanya menggunakan verbal simbol atau ucapan saja. Penggunaan media pembelajaran adalah solusi yang tepat untuk tipe visual ini. Ketiga, Kinestestik, yaitu siswa yang senangnya melakukan (learning to do), tentunya dengan tipe ini menggunakan media pembelajaran akan dapat membantu keterserapan materi pelajaran yang diberikan guru. Jadi bila guru telah mengajar hanya menggunakan verbal simbol atau one way communication, ini belumlah optimal dalam mencapai kompetensi yang diharapkan. Selain penjelasan tersebut, secara umum media mempunyai kegunaan, yaitu:
1.       Memperjelas pesan agar tidak terlalu verbalistis
2.       Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, tenaga dan daya indra.
3.       Menimbulkan gairah belajar, interaksi lebih langsung antara siswa dengan sumber belajar.
4.       Memungkinkan siswa belajar mandiri sesuai dengan bakat dan kemampuan visual, auditori dan kinestetiknya.
5.       Memberi rangsangan yang sama, mempersamakan pengalaman dan menimbulkan persepsi yang sama.
               Hasil penelitian BAVA di Amerika menegaskan bahwa bila seorang guru atau tenaga pendidik yang mengajar hanya menggunakan verbal simbol materi yang terserap hanya 13 % saja dan itupun tidak akan bertahan lama, sementara yang menggunakan multimedia bisa mencapai 64 sampai 84 % dan bertahan lebih lama. Hal ini bahwa media sangat besar pengaruhnya dalam peningkatan kualitas pembelajaran. Sejalan dengan itu, menurut Wina Sanjaya (2008:209), penggunaan media dapat menambah motivasi belajar siswa sehingga perhatian siswa terhadap materi pembelajaran dapat lebih meningkat. Oleh karena itu media pembelajaran dalam penggunaannya harus relevan dengan kompetensi yang ingin dicapai dalam isi pembelajaran itu sendiri. Pendapat ini dipertegas oleh Oemar Hamalik (1994:99), bahwa media pembelajaran sangat penting penggunaannya dalam semua situasi pengajaran, berdasarkan asumsi bahwa media pembelajararan memiliki fungsi yang penting untuk meningkatkan hasil belajar siswa/mahasiswa, dan hasil belajar itu tak mungkin meningkat tanpa penggunaan media pembelajaran yang relevan.
               Menurut Nana Sudjana (2007:4), ada beberapa hal yang perlu diperhatikan guru dalam menggunakan media pengajaran untuk mempertinggi kualitas pengajaran. Pertama, guru perlu memiliki pemahaman media pengajaran antara lain jenis dan manfaat media pengajaran, kriteria memilih dan menggunakan media pengajaran, menggunakan media sebagai alat bantu mengajar dan tindak lanjut penggunaan media dalam proses belajar siswa. Kedua, guru trampil membuat media pengajaran sederhana untuk keperluan pengajaran, terutama media dua dimensi atau media grafis, dan beberapa media tiga dimensi, dan media proyeksi. Ketiga, pengetahuan dan keterampilan dalam menilai keefektifan penggunaan media dalam proses pengajaran. Menilai keefektifan media pengajaran penting bagi guru agar ia bisa menentukan apakah penggunaan media mutlak diperlukan atau tidak selalu diperlukan dalam pengajaran sehubungan dengan prestasi belajar yang dicapai siswa.

D.          Sistematika Perencanaan Media Pembelajaran
              Keberhasilan penggunaan media, tidak terlepas dari bagaimana media itu direncanakan. Media yang dapat mengubah perilaku siswa (behavior change) dan meningkatkan hasil belajar siswa tertentu, tidak dapat berlangsung secara spontanitas, namun diperlukan analisis yang komprehensif dengan memperhatikan berbagai aspek yang dapat mempengaruhi keberhasilan pembelajaran. Aspek-aspek tersebut, diantaranya tujuan, kondisi siswa, fasilitas pendukung, waktu yang tersedia dan kemampuan guru dalam menggunakannya dengan tepat. Apabila guru mampu merancang media dengan baik sehingga pada akhirnya akan mampu meningkatkan mutu pembelajaran.
1.       Hakikat perencanaan media
              Dilihat dari pengadaannya media dapat menggunakan yang sudah ada yang dibuat oleh pihak tertentu (produsen media) dan kita dapat langsung menggunakannya, begitu juga media yang sifatnya alamiah yang tersedia dilingkungan sekolah juga termasuk yang dapat langsung digunakan. Selain itu, kita juga dapat membuat media sendiri sesuai dengan kebutuhan. Disinilah diperlukannya perencanaan, jika kita memiliki media dengan cara membeli yang sudah ada, kegiatan perencanaan media tidak terlalu banyak dilakukan, cukup dengan mencocokan materi yang akan diajarkan dengan media yang tersedia. Berbeda halnya jika kita membuat media sendiri berdasarkan kebutuhan, dalam hal ini diperlukan analisis terhadap berbagai aspek, sehingga sesuai dengan kebutuhan. Bila kita akan membuat program media pembelajaran kita diharapkan dapat melakukannya dengan persiapan dan perencanaan yang teliti. Dalam membuat perencanaan itu ada beberapa pertanyaan yang perlu kita jawab.
          Pertama kita perlu bertanya mengapa kita ingin membuat program media itu? Apakah pembuatan media tersebut ada kaitannya dengan kegiatan pembelajaran tertentu untuk mencapai tujuan tertenu pula? Untuk siapakah program media tersebut kita buat? Untuk orang dewasakah, anak-anak, mahasiwakah, siswa Sekolah Dasarkah atau masyarakat pada umumnya? Kalau kita sudah mengetahui siapa sasaran kita, pertanyaan kita belum selesai, masih perlu ditanyakan bagaimana karakteristik sasaran siswa tersebut? Betulkah media yang kita buat tersebut betul-betul dibutuhkan oleh mereka? Perubahan perilaku apa yang diharapkan akan terjadi pada diri siswa setelah menggunakan media tersebut? Sebaliknya jika siswa tidak menggunakan media tersebut apakah akan terjadi kerugian secara intelektual? Kita perlu juga, memikirkan materi apa yang perlu disajikan melalui media itu supaya pada diri siswa terjadi perubahan perilaku yang nyata sesuai harapan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak hanya menjadi pemikiran dan ide-ide semata, namun harus ditindak lanjuti dengan cara menuliskannya sehingga akan terwujud sebuah dokumen perencanaan media. Jadi hakikat perencanaan tidak cukup dengan niat dan ide cemerlang dalam membuat media, namun perlu dipersiapkan dalam bentuk naskah perencanaan media.
2.       Langkah-langkah perancangan media
              Untuk memperbaiki kualitas pembelajaran perlu diawali dengan perencanaan pembelajaran yang diwujudkan dengan adanya desain pembelajaran. Demikian juga keberhasilan penggunaan media, tidak terlepas dari bagaimana media itu direncanakan. Secara umum ada beberapa langkah-langkah dalam merencanakan media, yang dapat diperinci sebagai berikut:
a.       identifikasi kebutuhan dan karakteristik siswa
b.       perumusan tujuan instruksional (instructional objective)
c.       perumusan butir-butir materi yang terperinci
d.      mengembangkan alat pengukur keberhasilan
e.       menuliskan naskah media
f.       merumuskan instrumen dan tes serta alat ukur.
Langkah-langkah tersebut secara singkat dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.       Identifikasi kebutuhan dan karekateristik siswa.
              Sebuah perencanaan media harus didasarkan kebutuhan (need). Menurut Wina Sanjaya (2008:91) menganalisis kebutuhan merupakan salah satu kegiatan yang penting dalam mendesain pembelajaran. Hal ini sesuai dengan tujuan desain yang dikembangkan untuk membantu menyelesaikan kebutuhan belajar untuk siswa. Salah satu indikator adanya kebutuhan karena di dalamnya terdapat kesenjangan (gap). Kesenjangan adalah adanya ketidaksesuaian antara apa yang seharusnya atau apa yang diharapkan dengan apa yang terjadi.
          Dalam pembelajaran yang dimaksud dengan kebutuhan adalah adanya kesenjangan antara kemampuan, keterampilan dan sikap siswa yang kita inginkan dengan kemampuan, keterampilan dan sikap siswa yang mereka miliki sekarang. Adanya kebutuhan, seyogyanya menjadi dasar dan pijakan dalam membuat media pembelajaran, sebab dengan dorongan kebutuhan inilah media dapat berfungsi dengan baik. Kebutuhan akan media dapat didasarkan atas kebutuhan kurikulum, yang diharapkan dapat memiliki sejumlah kemampuan, keterampilan dan sikap yang telah dirumuskan dalam kurikulum. Media yang digunakan siswa, haruslah relevan dengan kemampuan yang dimiliki siswa. Misalnya seorang siswa yang ingin belajar ucapan dan percakapan dalam bahasa Inggris melalui kaset audio, hanya akan dapat mengikutinya jika siswa tersebut telah memiliki kemampuan awal berupa penguasaan kosa kata dan dapat menyusun kalimat sederhana. Jika kita tidak memperhatikan kemampuan tersebut ketika diberikan media tersebut siswa akan mengalami kesulitan.
2.       Perumusan tujuan
              Tujuan merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan karena dengan tujuan akan mempengaruhi arah dan tindakan kita. Dengan tujuan itu pulalah kita dapat mengetahui apakah target sudah dapat tercapai atau tidak. Tujuan harus dirumuskan dengan jelas dan spesifik. Dalam pembelajaran tujuan juga merupakan salah satu faktor penting, karena tujuan itu akan menjadi arah kepada siswa untuk melakukan perilaku yang diharapkan dengan tujuan tersebut.
Menurut Wina Sanjaya (2008:121) tujuan merupakan pengikat segala aktivitas guru dan siswa. Menurutnya, merumuskan tujuan merupakan langkah pertama yang harus dilakukan dalam merancang program pembelajaran. Perumusan tujuan tersebut yang didalamnya termasuk media yang digunakan. Perumusan tujuan itu, baik guru maupun siswa memiliki kejelasan apa yang harus dicapai, apa yang harus dilakukan dalam mewujudkan tujuan tersebut, materi apa yang harus disiapkan oleh guru, dan bagaimana menyampaikannya, sudah tergambar dengan jelas. Tujuan yang baik, yaitu yang jelas, terukur, dan operasional. Oleh karena itu, dalam melakukan proses pembelajaran menurut Vernon S. Gerlach and Donald P.Ely (1980) menjelaskan, “guru terlebih dahulu menentukan tujuan pembelajaran berdasarkan isi atau materi pembelajara.” Menentukan perilaku siswa, memilih pendekatan dan teknik sesuai tujuan pembelajaran dan alat ukur yang digunakan setiap kelompok dengan teknik tertentu. Perlu mempertimbangkan media pembelajaran yang ada, memilih media sesuai dengan kebutuhan yang diajarkan. Mengetahui sumber belajar yang digunakan dan ketersediaan bahan pengajaran yang bisa digunakan oleh siswa.
3.       Perumusan materi
              Titik tolak perumusan materi pembelajaran adalah dari rumusan tujuan. Materi berkaitan dengan substansi isi pelajaran yang harus diberikan. Materi disusun dengan memperhatikan kriteria tertentu, diantaranya:
a.       sahih atau valid
          yaitu materi yang dituangkan dalam media untuk pembelajaran benar-benar telah teruji kebenarannya dan kesahihannya
b.       tingkat kepentingan (significant)
          yaitu dalam memilih materi perlu dipertimbangkan sejauhmana materi tersebut penting untuk dipelajari, penting bagi siswa dan benar-benar dibutuhkan.
c.       kebermanfaatan (utility)
          yaitu kebermanfaatan secara akademis dan kebermanfaatan dari segi non akademis. Secara akademis harus bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan siswa, sedangkan non akademis materi harus menjadi bekal berupa life skill baik berupa pengetahuan aplikasi, keterampilan dan sikap yang dibutuhkannya dalam kehidupan sehari-hari
d.      learnability
          yaitu sebuah program harus dimunginkan untuk dipelajari, baik dari segi aspek tingkat kesulitannya, bahan ajar tersebut layak digunakan sesuai dengan kebutuhan setempat;
e.       menarik minat (interest)
          yaitu materi yang dipilih harus menarik minat dan dapat memotivasi siswa untuk mempelajarinya lebih lanjut. Setiap materi yang diberikan kepada siswa harus menimbulkan keingintahuan lebih lanjut, sehingga memunculkan dorongan lebih tinggi untuk belajar secara aktif dan mandiri.
Begitu halnya dengan materi sebuah program media, kriteria materi yang diuraikan tersebut berlaku pula untuk materi pada media. Sebuah program media di dalamnya haruslah berisi materi yang harus dikuasai oleh siswa.

4.       Perumusan alat ukur keberhasilan
              Pembelajaran yang kita lakukan haruslah diukur apakah tujuan pembelajaran sudah tercapai atau tidak. Untuk mengukur hal tersebut, maka diperlukan alat pengukur hasil belajar yang berupa tes, penugasan atau daftar cek perilaku. Alat pengukur keberhasilan belajar ini perlu dikembangkan dengan berpijak pada tujuan yang telah dirumuskan dan harus sesuai dengan materi yang telah dipersiapkan. Yang perlu diukur adalah tiga kemapuan utama yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik yang telah dirumuskan secara rinci dalam tujuan.
5.       Menuliskan naskah media
              Istilah ini juga digunakan untuk membuat media cetak, seperti halnya buku, koran, majalah dan lain sebagainya. Namun demikian secara umum naskah dalam perencanaan program media dapat diartikan sebagai pedoman tertulis yang berisi informasi dalam bentuk visual, grafis, dan audio sebagai acuan pembuatan media tertentu, sesuai dengan tujuan dan kompetensi tertentu. Secara sederhana naskah juga dapat berupa gambaran umum media atau juga otline media yang akan dibuat. Dengan demikian pembuatan media diawali dengan ide atau gagasan. Menghasilkan media yang bagus diperlukan kreativitas dan ide cemerlang. Contohnya seorang programmer pembuatan media pembelajaran berbantuan komputer, dalam program media tersebut mengacu pada naskah. Oleh karena itu, diperlukan pemikiran kira-kira ide seperti apa yang menarik namun tetap memiliki substansi materi yang jelas.

E.           Kriteria Memilih Media Pembelajaran
              Sebelum menjelaskan kriteria dalam memilih sebuah media pembelajaran, maka perlu dijelaskan ada beberapa jenis media pengajaran menurut Nana Sudjana (2007:3-4). Pertama, media grafis seperti gambar, foto, grafik, bagan atau diagram, poster, kartun, komik dan lain-lain. Media grafis sering juga disebut media dua dimensi, yakni media yang mempunyai ukuran panjang dan lebar. Kedua, media tiga dimensi yaitu dalam bentuk model padat (solid model), model penampang, model susun, model kerja, mock up, diorama dan lain-lain. Ketiga, media proyeksi seperti slide, film strips, film, penggunaan OHP dan lain-lain. Keempat, penggunaan lingkungan sebagai media pengajaran.
Penggunaan media di atas tidak dilihat atau dinilai dari segi kecanggihan medianya, tetapi yang lebih penting adalah fungsi media dan peranannya dalam membantu mempertinggi proses pembelajaran. Oleh sebab itu penggunaan media sebagaimana dijelaskan sebelumnya sangat bergantung kepada tujuan pembelajaran, bahan pengajaran, kemudahan memperoleh media yang diperlukan serta kemampuan guru dalam menggunakannya dalam proses pembelajaran.
              Sehubungan dengan penggunaan media yang telah disebutkan di atas, menurut Hubbard (1983) mengusulkan sembilan kriteria untuk menilainya, yaitu antara lain biaya, ketersediaan fasilitas pendukung, kecocokan dengan ukuran kelas, keringkasan, kemampuan untuk dirubah, waktu dan tenaga penyiapan, pengaruh yang ditimbulkan, kerumitan, dan kegunaan. Sedangkan lebih lanjut Ruman (2008:86-87), menjelaskan ada beberapa kriteria pemilihan media pembelajaran, yaitu:
a.       Ketepatannya dengan tujuan/kompetensi pembelajaran; artinya media pembelajaran dipilih atas dasar tujuan-tujuan instruksional atau kompetensi yang telah ditetapkan.
b.       Dukungan terhadap isi materi pelajaran; artinya bahan pelajaran yang sifatnya fakta, prinsip, konsep dan generalisasi sangat memerlukan bantuan media agar lebih mudah dipahami siswa.
c.       Kemudahan mendapat media; artinya media yang diperlukan mudah diperoleh, setidak-tidaknya mudah dibuat oleh guru pada saat menggajar.
d.      Keterampilan guru menggunakannya; artinya secanggih apapun sebuah media apabila tidak tahu cara menggunakannya maka media tersebut tidak memiliki apa-apa.
e.       Tersedia alokasi waktu untuk menggunakannya; sehingga media tersebut dapat bermanfaat bagi siswa selama proses pembelajaran berlangsung.
f.       Memilih media pembelajaran harus sesuai dengan taraf berfikir dan perkembangan siswa, sehingga makna yang terkandung di dalamnya dapat dipahami dan mudah dimengerti oleh para siswa.



BAB III
PENUTUP

A.          Kesimpulan
              Dari beberapa uraian tersebut, ada beberapa point yang dapat disimpulkan yang berhubungan dengan kreativitas guru menggunakan media untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, di antaranya:
1.       Berhasil atau tidaknya suatu kurikulum (pembelajaran) pada akhirnya bergantung pada aktivitas dan kreativitas guru dalam menjabarkan dan merealisasikan kurikulum tersebut.
2.       Kreativitas seorang guru merupakan hal yang penting dalam pembelajaran, dan guru dituntut untuk mendemonstrasikan dan menunjukkan proses kreativitas tersebut.
3.       Penggunaan media pengajaran dapat mempertinggi kualitas proses belajar mengajar yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas hasil belajar para siswa. Aspek penting lainnya penggunaan media adalah membantu memperjelas pesan pembelajaran.
4.       Secara umum media mempunyai kegunaan, yaitu:
a.       memperjelas pesan agar tidak terlalu verbalistis
b.       mengatasi keterbatasan ruang, waktu, tenaga dan daya indra
c.       menimbulkan gairah belajar, interaksi lebih langsung antara siswa dengan sumber belajar
d.      memungkinkan siswa belajar mandiri sesuai dengan bakat dan kemampuan visual, auditori dan kinestetiknya
e.       memberi rangsangan yang sama, mempersamakan pengalaman dan menimbulkan persepsi yang sama.
5.       Ada beberapa langkah-langkah dalam merencanakan media, yang dapat diperinci sebagai berikut:
a.       identifikasi kebutuhan dan karekateristik siswa
b.       perumusan tujuan instruksional (instructional objective
c.       perumusan butir-butir materi yang terperinci
d.      mengembangkan alat pengukur keberhasilan
e.       menuliskan naskah media
f.       merumuskan instrumen dan tes serta alat ukur.
6.       Dalam memilih media pembelajaran harus memiliki beberapa kriteria, yaitu: ketepatannya dengan tujuan/kompetensi pembelajaran, dukungan terhadap isi materi pelajaran, kemudahan mendapat media, keterampilan guru menggunakannya, tersedia alokasi waktu untuk menggunakannya, dan memilih media pembelajaran harus sesuai dengan taraf berfikir dan perkembangan siswa.

B.           Saran
              Ada beberapa saran yang perlu diperhatikan terutama oleh seorang guru dalam melakukan pembelajaran atau menyampaikan materi ajar kepada peserta didik, yaitu:
1.       Melalui kreativitas guru, pembelajaran di kelas menjadi sebuah aktivitas yang menyenangkan. Proses aktivitas pembelajaran yang menyenangkan tentunya tidak tercipta begitu saja, akan tetapi pengelolaannya dirancang oleh guru dengan merancang fasilitas belajar (media), agar aktivitas belajar siswa menjadi dipermudah dan mendorong proses belajar siswa.
2.       Guru selalu mengembangkan kreativitas, keterampilan membuat dan merancang serta mengoperasikan media pembelajaran.
3.       Media bukan digunakan untuk mempermudah guru mengajar, tetapi media untuk mempermudah siswa belajar ( membelajarkan siswa), sehingga dapat mempertinggi proses belajar siswa.
4.       Guru perlu memahami betapa pentingnya penggunaan media dalam pembelajaran karena media pembelajaran dapat mempertinggi kualitas proses belajar mengajar yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas hasil belajar para siswa dan media pembelajaran dapat membantu memperjelas pesan pembelajaran.
5.       Media pembelajaran dalam penggunaannya harus relevan dengan kompetensi yang ingin dicapai dalam isi pembelajaran itu sendiri.
6.       Memilih media pembelajaran harus sesuai dengan taraf berfikir, perkembangan, dan karakteristik siswa sehingga makna yang terkandung di dalamnya dapat dipahami dan mudah dimengerti oleh para siswa.
7.       Guru senantiasa berusaha untuk menemukan cara yang lebih baik dalam melayani peserta didik, sehingga apa yang akan dikerjakan oleh guru sekarang lebih baik dari yang telah dikerjakan sebelumnya dan apa yang dikerjakan dimasa mendatang lebih baik dari sekarang.

DAFTAR PUSTAKA

Arief S. Sudirman dkk. (2003), Media Pendidikan: Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya. Jakarta: Rajagrafindo Persada.
Arsyad Azhar (2000), Media Pengajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Mulyasa (2006), Kurikulum Berbasis Kompetensi: Konsep, Karakteristik, dan Implementas. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Mulyasa (2008), Menjadi Guru Profesional: Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nana Sudjana (2007), Media Pengajaran. Bandung: Sinar baru Algensindo.
Nana Syaodih S. (2004), Kurikulum dan Pembelajaran Kompetensi. Bandung: Yayasan Kusuma Karya.
Noeng Muhadjir (2003), Ilmu Pendidikan dan Perubahan Sosial: Teori pendidikan Pelaku Sosial Kreatif. Yogyakarta:Rake Sarasin.
Oemar Hamalik (1994), Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran: Dasar dan Strategi Pelaksanaan di Perguruan Tinggi. Bandung: Trigenda Karya.
Rusman (2008), Manajemen Kurikulum. Bandung: SPS UPI.
Wina Sanjaya (2008), Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Kencana, Prenada Media Group.
Wina Sanjaya (2008), Kurikulum dan Pembelajaran: Teori dan Praktik Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana, Prenada Media Group.
Vernon S. Gerlach and Donald P.Ely (1980) Teaching and Media: A Systematic Approach: Prentice-Hall, Inc.
http://putrawapulaka.blogspot.com/2010/02/makalah.html

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Kreativitas guru menggunakan media untuk meningkatkan kualitas pembelajaran"

Post a Comment